Subnetting & Supernetting

Subnetting vs Supernetting

03AGU
Supernetting merupakan kebalikan dari Subnetting, dimana dalam hal ini penambahan jumlah Host dalam jaringan dilakukan dengan meminjam beberapa bit network untuk dijadikan bit Host dalam membentuk IP-Address pada Supernet, dengan memperhatikan jumlah Nomor Host yang akan digabung.
Pengaturan IP-Address pada super jaringan (supernet) ada prosedurnya tersendiri, yaitu sebagai berikut :
Prosedur Supernetting :
  1. Pada Supernet bit Host yang bernilai nol semua berfungsi sebagai Supernet Address,  bit Host yang bernilai satu semua berfungsi sebagai Broadcast Address.
  2. Pada proses netmasking, IP-Address untuk Supernet-mask ditentukan dengan mengganti semua bit Network  dengan bit 1, dan mengganti semua bit Host (termasuk bit Host yang dipinjam dari bit Network) dengan bit 0.Contohnya pembentukan supernet dari gabungan 4 buah jaringan Kelas-C dengan meminjam2 bit Network, maka komposisi bit 1 dan bit pada proses netmasking :
Sebelum Subnetting    110nnnnn.nnnnnnnn. nnnnnnnn.hhhhhhhh
Proses netmasking    :    11111111 . 11111111 . 11111111. 00000000
Subnet-mask  Kls-C :          255     .       255     .         255       .        0
Setelah Supernetting   110nnnnn.nnnnnnnn. nnnnnnHH.hhhhhhhh
Proses netmasking    :   11111111.11111111.11111100.00000000
Supernet-mask          :         255    .      255    .      252     .        0
Untuk menghitung nilai desimal dari Subnet pada proses netmasking di atas, digunakan tabel konversi Biner
Manfaat dari supernetting adalah :  Mempersingkat routing table sebuah router sehingga menghemat memori pada router tersebut.
Ada dua masalah yang saling berkaitan, antara pemberian suatu kelas alamat pada suatu lembaga. Pertama kelas alamat yang diberikan lebih kecil daripada jumlah host yang akan dihubungkan. Dan yang kedua sebaliknya, kelas alamat yang lebih besar dari host yang akan saling dihubungkan. Supernetting berkaitan dengan metode untuk memanipulasi alokasi alamat yang terbatas sedemikian sehingga semua host yang tersedia dapat dihubungkan ke jaringan. Jadi supernetting adalah menggunakan bit mask alamat asal untuk membuat jaringan yang lebih besar.
Strategi Perhitungan Subnetting dan Supernetting :
1. Subnetting:
  • Jika pada masing-masing kelas IP (A/B/C) subnetmask sebuah IP address host tidak default, maka berarti terdapat subnet pada network dimana IP berada. Tepatnya, jumlah bit network pada subnetmask tersebut lebih dari jumlah bit netwok pada subnetmask defaultnya.
  • Jikalau IP nya kelas B, subnetbitnya adalah 4. Subnetmask 255.255.240= /20.√®Jumlah subnetwork yang terdapat pada subnetting sama dengan 2 pangkat jumlah bit subnet. Contoh dari subnetmask 255.255.240.0
Bit subnet = 20 – 16 = 4 (dimana 16 adalah /16 sebagai default subnetmask kelas B) .Dengan         demikian, jumlah subnetwork = 2 pangkat 4 = 16 buah. Catatan, menurut ketentuan Internasional (CISCO) . jika IP tersebut termasuk IP Internet, maka Jumlah subnetwork harus dikurangi 2. Mengapa? Karena tidak boleh subnetwork yang Terbentuk berimpit dengan IP network induk atau IP broadcast induk (maksudnya induk adalah default).
  • Jumlah IP host dari sebuah subnetwork sama dengan 2 pangkat jumlah bit host yang diperoleh dari subnetmask yang digunakan. Misalnya sebuah IP menggunakan subnetmask 255.255.255.192, maka subnetmask tersebut dapat ditulis menjadi /26. Jumlah bit host dihitung dari /32 – /26 = 6. Enam adalah jumlah bit host. Jadi, jumlah IP host pada subnetwork di atas sebanyak 2 pangkat 6 dikurangi 2 sama dengan
2. Supernetting :
  • Jika pada masing-masing kelas IP (A/B/C) subnetmask sebuah IP address host tidak default, dan jumlah bit network pada subnetmask tersebut kurang dari jumlah bit netwok pada subnetmask defaultnya disebut supernetting. Contoh, IP 192.168.100.8/22. Jelas bahwa IP tersebut termasuk kelas C. Akan tetapi, bit subnetmasknya kurang dari defaultnya. Dengan demikian, kasus ini menggunakan supernetting.
  • Ketentuan perhitungan jumlah supernet dan hostnya sama dengan perhitungan subnetting.
  • Kegunaan supernetting adalah untuk menggabungkan jumlah IP yang tidak mencukupi dari sebuah kelas IP dan menghindari router. Misalnya, untuk kelas C, jumlah host dari networknya tidak bisa lebih dari 254 IP. Padahal diinginkan 1 networknya 1000 komputer tanpa menggunakan Router. Nah, di sinilah peranan supernetting diperlukan. Biasanya, supernetting ini disebut dengan CIDR (classless inter-domain routing).

Share this

Previous
Next Post »